#BAYUKARTA - CHAPTER 1. TUGAS SEKOLAH


Tidak ada kota berkeliling laut yang lebih indah dari pada Bayukarta. Daratan kota itu hampir menjadi pulau, jika tidak ada terusan selebar 200 meter yang menghubungkan kota dengan daerah kontinen besar Megakarta. Ada juga yang bilang bahwa terusan itu adalah buatan pemerintah terdahulu untuk memperlancar jalur transportasi ke kontinen besar. Namun tidak pernah ada catatan resmi yang menjelaskan tentang hal itu. Selain hamparan laut yang dapat terlihat dari hampir setiap sudut kota, Bayukarta mempunyai ratusan parit-parit sungai yang membelah beberapa wilayah. Namun ada keanehan ajaib mengenai aliran air di parit sungai kota itu. Aliran sungai Bayukarta tidak mengikuti wadahnya, dia mempunyai jalur airnya sendiri. Kadang satu parit terisi dan besoknya parit itu kering. Air mengisi di celah parit lainnya yang sebelumnya kering.  Perubahan terjadi setiap tengah malam, tepat 30 menit sebelum dan sesudah bulan menghilang. Selama kurun waktu 1 jam itu, penduduk Bayukarta dilarang mendekati jalur sungai. Dan patrol udara akan mengawasi jalannya perubahan jalur air. Esoknya, peta jalur air yang baru akan diedarkan melalui harian elektronik di tiap rumah. Pemandangan pergerakan air yang ajaib itu menjadi daya tarik para turis sehingga membuat Bayukarta menjadi kota pariwisata terbaik kedua setelah kota Gambiri dengan kuda terbangnya.

Selama 14 tahun masa hidupnya, Biru menghabiskan waktunya di kota ini. Orang-orang menjulukinya anak air. Jika biasanya anak-anak seusianya sudah jenuh dengan bermain air, bagi Biru hal itu adalah kebiasaan yang tidak boleh ditinggalkan.  Tiap hari Ia lebih banyak berenang dari pada berjalan, dan berpeluk air lebih sering dari bercium angin. Berenang di jam-jam kapal turis diistirahatkan adalah kegemarannya, karena waktu itu aliran sungai akan sangat kencang dan dia bisa berseluncur dengan cepat hanya dengan menghanyutkan tubuhnya. Kakak perempuannya Elfa, yang bekerja sebagai anggota tim patrol udara, telah berkali-kali memperingatkan Biru untuk berhenti berenang di dekat jam pergantian jalur air. Namun peringatan berakhir menjadi gurauan di telinga anak keras kepala seperti Biru. Sebagai akibatnya, kadang Biru tidak mendapat makan malam atau bahkan harus tidur di luar. Biru tidak masalah dengan semua itu, asal dia bisa memuaskan keinginannya untuk berada di dekat air.

Seperti waktu di bulan ke tujuh tahun ini, merupakan kesempatan emas untuk menikmati pekan panjang bermain air. Sebab awal libur panjang sekolah telah dimulai. “Tiga hari,” gumam Biru sambil memicingkan matanya melihat terik matahari yang mulai mendekat. Biru mulai berenang menepi dan mengeluarkan tubuhnya dari dalam sungai. Dia pun mengibas-ngibaskan rambut keritingnya yang basah dan berjalan ke arah rumah. Begitu membuka pintu, selembar kain handuk langsung mendarat ke wajahnya.

Kakek yang melempar handuk itu menggelengkan kepalanya tak habis pikir sambil berkata, “Satu peraturan kakek di rumah ini,”

“Jangan membawa banjir ke dalam rumah.” Biru melanjutkan sambil tertawa. Lesung di pipi kirinya begitu terlihat saat dia tertawa lepas seperti itu. Dia kemudian mulai mengelap kulitnya yang sudah gosong terkena sinar matahari berjam-jam. Tak banyak waktu dibutuhkan untuk mengelap badan kurus itu, yang memilih berolah raga air timbang makan yang banyak. Diiringi dengan pertumbuhan tinggi yang begitu cepat di usianya sekarang, Kakek melihat cucunya seperti tiang lampu berjalan. Dan tentu hal itu menjadi misinya untuk membuat Biru lebih tampak ‘berdaging’. Sementara Kakek berpikir seperti itu, Biru dengan cepat melenggang ke dapur terpancing oleh aroma rendang yang dimasak Kakek sebelumnya. Tanpa banyak membuang waktu Biru menyiapkan makan siangnya dan duduk bersama Kakek di meja makan.

Makan tanpa suara, adalah adat tak tertulis di rumah Biru yang juga bertujuan agar penghuni rumah menyelesaikan makannya lebih cepat selagi nasi masih hangat. Biru melahap sekaligus beberapa potong daging dalam sekali suapan kerena kakek selalu memotongnya kecil-kecil. Mungkin agar terlihat banyak, pikir Biru. Perbedaan tempo seorang anak kelaparan yang dengan cepat melahap nasinya dengan pria tua yang berhati-hati menyeruput teh panas di hadapannya merupakan pemandangan yang aneh dan menarik. Bahkan Giras, anggota keluarga lain berbulu putih yang sedang tidur di depan TV ikut tertarik melihat pemandangan itu. Atau mungkin juga karena Ia sudah lelah menjalankan hobinya sebagai kucing dengan tidur seharian di bantal duduk kakek dan memutuskan membuka matanya sekarang. Setelah makannya usai Biru masih duduk di meja makan sambil menunggu pertanyaan kakek yang Ia tahu ingin mengajaknya berbincang dari tadi. Dan akhirnya obrolan pun muncul.

“Kamu jadi, ke rumah temanmu untuk mengerjakan tugas?” Tanya Kakek sambil membenarkan kacamata tuanya.

“Jadi. Setelah ini Biru pergi.”

“Akssa itu yang sering juara kelas, kan. Ayahnya juga seorang professor yang sering wara-wiri penelitian di luar. Kenapa kalian bisa berada dalam satu kelompok tugas liburan? Apakah kalian dekat?” Biru tertawa kecil mendengar pertanyaan kakek. Selama ini kakek tidak pernah peduli dengan rapornya dan selalu memintanya bersenang-senang di sekolah tanpa memikirkan nilai, namun Ia memang selalu penasaran dengan teman Biru. Mungkin kakek khawatir dikarenakan sifat cucunya yang keras kepala, tidak ada kawan yang mampu bertahan menghadapi cucunya.

“Sudah, Biru berangkat ya. Kakek jangan terlalu banyak minum teh.” Seperti biasa obrolan di meja makan tidak berlangsung lama. Biru segera mengenakan baju ganti serta mengambil tas selempangnya, dan pergi ke tempat teman barunya yang pintar.

***

 Mengenal Akssa sejak semester awal sekolah tidak membuat Biru mengetahui sosok Akssa yang sesungguhnya. Rumor mengatakan bahwa Akksa telah membaca semua literatur perpustakaan di akhir tahun kedua. Namun di luar itu tidak banyak hal yang Biru ketahui tentang Akksa. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk saling mengenal.

Tidak banyak waktu yang diperlukan untuk sampai ke rumah bercat kuning besar itu dengan mengayuh sepeda. Semua orang tahu di sanalah rumah Profesor Arbi, seorang maniak pengetahuan yang rela memberi apa saja untuk melegakan rasa hausnya akan rahasia dunia. Bahkan kabarnya dia rela membayar 10.000 Rrkina untuk secuil batu langka yang belum diketahui gunanya. Tentunya Ia juga menghasilkan banyak uang jika dia mau rela berkorban sebanyak itu dan masih mempunyai rumah bak istana ini. Tidak seperti kota-kota lain dengan rumah berpintu gerbang, rumah-rumah di Bayukarta hanya dikelilingi tembok batu yang rendah sampai ke jalan utama. Juga tidak seperti rumah Biru yang pagarnya dikelilingi tanaman rambat, tuan Arbi selalu memperhatikan agar pagar batu rumahnya bersih bahkan dari secuil lumut. Kebun lebat yang berisi beraneka warna tanaman terlihat di balik pagar jaring di belakang rumah, sementara halaman depan dibiarkan kosong dengan rerumputan Deawa. Pada musim ini seluruh rumput itu berwarna kuning pisang dan mungkin masih memakan waktu sampai 2 ½ bulan lagi untuk berubah kemerahan. Karena itu warna rumput dan cat rumah itu tampak sangat saru dan bersinar. Hanya sedikit level pucat yang menjadi pembeda antar cat dan karpet alami itu. Di sokong pilar-pilar teras dengan tinggi tiga kali badannya, Biru dihadapkan dengan pintu yang juga tampak berlebihan untuk dilewati tinggi manusia biasa. Meskipun tidak aneh jika Pak Arbi membiarkan Gajah atau jerapah melewati pintu masuk utamanya. Pintu kayu itu dikunci dengan kunci otomatis dan membiarkan tamu menyapa pemilik rumah melalui interkom. Perlu beberapa waktu untuk Biru melakukan prosedur bertamu dengan benar karena tidak biasa dengan perangkat semacam itu.

“Hai, ini Biru. Apa Akssa ada di rumah?”

Di dalam rumah, seorang remaja lain sedang memperhatikan laporan interkom dari sofa ruang bacanya. Pandangannya datar melihat wajah Biru dari hologram yang ditunjukkan robot asistennya. Satu-satunya yang Ia rasakan hanyalah gangguan di saat bab mulai menarik dari buku yang sedang dibacanya, dan dari pada Ia menghabiskan lebih banyak waktu lagi menerka tujuan kedatangan teman sekelasnya yang asing itu, Ia pun mulai berdiri. Setelah mengambil pembatas di atas meja dan meletakkan buku yang dibacanya kembali ke tempat yang sama di rak, Ia menyambut tamunya. Pemuda berkulit pucat dan berwajah tenang itu akhirnya membuka pintu dan memasang muka penuh pertanyaan namun Biru hanya tersenyum menunggunya mengeluarkan kata-kata pertama.

“… Boleh aku tahu maksud kedatanganmu, teman sekelasku yang asing?” Akssa mengernyit kecil.

“Kamu baru kembali kemarin kan? Sudah tahu tugas kelompok untuk liburan?”

Dengan setengah menggumam Akssa menjawab, “Lima elemen dasar? Jangan bilang…” mukanya mengisyaratkan tidak percaya, namun hati kecil Akssa tahu arah pembicaraan ini.

“Mohon kerja samanya ya, partner.” Biru tersenyum menambahkan.

Bukan berarti dunia berakhir jika mendapat Biru sebagai partner tugas liburan, namun paling tidak Akssa akan merasakan akhir dunia selama beberapa hari bekerja dengan seorang Biru. Tugas lima elemen dasar yang Ia dengar sebelum mengambil cuti panjang di akhir semester adalah kesempatan emasnya. Ia dapat pergi melakukan penelitian di kota lain dan membaca literatur dari perpustakaan lain tanpa ayahnya. Dia berencana menjadi sukarelawan penjahit tugas itu jika pasangan kerjanya tidak mau melakukan penelitian jarak jauh. Tetapi kesempatan itu hilang hanya jika secara sangat tidak beruntung Birulah yang menjadi pasangannya. Akssa tahu kenapa di waktu absennya teman-temannya meninggalkan Biru untuknya. Karena Biru mempunyai reputasinya sendiri.

 Meskipun dia adalah anak yang supel dan ramah, namun hanya untuk tugas ini mungkin semua anak akan menghindarinya. Pertama, Biru pasti akan memilih tema elemen air, yang menjadi pilihan tema dari 5 elemen dasar dikarenakan hidupnya yang tidak jauh dari gaya hidup ikan. Tidak ada yang tidak tahu bahwa Biru adalah anak air! Dia akan berenang ke manapun, mengajak siapa pun, dan reputasi lain yang Ia dapat adalah dia anak yang sangat pemaksa. Mungkin dia bersemangat melakukan tugas itu hanya karena Ia akan mempunyai teman bermain di air. Namun hal yang tidak banyak diketahui orang luar, bahwa masyarakat lokal Bayukarta sudah sangat bosan dengan air. Mereka akan sering berenang saat masih anak-anak, namun tidak sampai usia 9 tahun mereka akan membenci tubuh yang basah. Pengecualian untuk Biru, bahkan meski perenang handal pun menyukai waktu istirahatnya, namun bagi Biru air adalah waktu istirahatnya.

Hal kedua yang dibenci Akssa dari tema air adalah, dia sangat tidak tertarik. Semua literatur mengenai air sudah dibacanya sejak kecil, anggap saja karena isi tiap perpustakaan umum di Bayukarta sangat membanggakan keunikan kotanya. Sementara dia hanya bisa membaca literatur mengenai elemen lain dari beberapa buku di perpustakaan ayahnya atau jika beruntung diperbolehkan ikut ke perpustakaan lain di kota yang dikunjungi ayahnya. Dan di saat kesempatan emas itu datang, palu panas dengan sekejap melelehkan harapan Akssa. Debat tidak akan meyelesaikan apapun, jadi Akssa memutuskan untuk menyelesaikan segalanya dengan cepat.

“Oke Biru, aku sudah menebak tema pilihanmu. Dan aku juga nggak mau banyak berdebat. Bisakah kita menyelesaikannya dalam waktu 3 hari?” Akksa berusaha mempersingkat waktu penderitaannya. Maka sisa waktu liburan bisa kumanfaatkan untuk diriku, pikirnya.

Biru tercengang karena Akksa bisa membaca rencananya yang ingin menyelesaikan penelitian ini dalam waktu 3 hari. Tentu Biru juga tidak ingin membuang banyak waktu untuk jauh dari air. “Bagaimana kalau kita mulai meneliti di sungai depan menara jam? Hari ini parit di sana terisi air. Bisa sambil berenang juga di sana.” Biru memberi usul.

“Yang kedua, aku tidak akan berenang. Kita akan berdiskusi dengan keadaan aku selalu berada di darat.”

“Oke, jadi sekarang?”

 To be continued…

Comments

Popular Posts